Mendalami Sisi OCD
“Kenapa aku suka melakukan sesuatu berulang-ulang?” Tanyaku pada diri sendiri di keheningan malam.
Padahal aku tahu jawabannya tidak masuk akal. Tapi pikiranku terus menyuruhku untuk melakukannya lagi Dan lagi.
Belakangan aku baru tahu bahwa kondisi ini punya nama. Orang menyebutnya Obsessive-Compulsive Disorder, atau OCD.
Tapi sebelum orang memberi label itu, bagiku semua ini hanyalah satu hal: kecemasan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Aku tahu pikiranku tidak normal… tapi aku tidak bisa menghentikannya
Ada dua hal yang selalu terjadi di kepalaku.
Pertama adalah pikiran yang muncul terus-menerus. Pikiran yang bahkan tidak aku inginkan.
Misalnya tiba-tiba aku berpikir:
“Bagaimana kalau tanganku penuh kuman?”
“Bagaimana kalau pintu rumah belum terkunci?”
“Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang bisa membahayakan orang lain?”
Aku tahu itu berlebihan. Aku tahu kemungkinan itu kecil.
Tapi pikiranku tidak peduli pada logika.
Pikiran-pikiran itu terus datang. Berulang. Mengganggu. Seolah-olah otakku menekan tombol alarm yang tidak bisa dimatikan.
Orang menyebutnya obsesi.
Dan setiap obsesi selalu diikuti oleh sesuatu yang lain.
Sebuah dorongan yang terasa harus dilakukan.
Ritual kecil yang terasa seperti kewajiban
Ketika kecemasan muncul, aku melakukan sesuatu untuk meredakannya.
Aku mencuci tangan.
Sekali tidak cukup.
Dua kali.
Kadang sepuluh kali.
Aku mengecek pintu rumah.
Sudah terkunci.
Tapi aku mengeceknya lagi. Dan lagi.
Kadang aku menata benda di meja sampai semuanya terlihat simetris. Jika sedikit saja bergeser, pikiranku kembali tidak tenang.
Aku sadar semua itu berlebihan.
Tapi jika aku tidak melakukannya, kecemasan itu justru menjadi jauh lebih besar.
Perilaku seperti ini disebut kompulsi.
Obsesi menciptakan kecemasan.
Kompulsi mencoba meredakan kecemasan itu.
Dan keduanya membentuk lingkaran yang terus berulang.
Aku pernah bertanya: kenapa ini terjadi padaku?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang ku pikirkan
Para peneliti mengatakan ada beberapa faktor yang mungkin terlibat.
Salah satunya adalah biologi otak.
Beberapa bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan dan deteksi bahaya — seperti orbitofrontal cortex, basal ganglia, dan anterior cingulate cortex — bisa bekerja terlalu aktif. Sistem kimia otak, terutama yang berkaitan dengan serotonin, juga berperan.
Akibatnya, otak seperti terjebak dalam loop peringatan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Tapi biologi bukan satu-satunya penjelasan.
Ada juga kemungkinan faktor genetik. Jika seseorang memiliki anggota keluarga dengan OCD, risikonya sedikit lebih tinggi.
Lalu ada pola psikologis tertentu yang bisa memperkuatnya.
Misalnya:
- rasa tanggung jawab yang terlalu besar
- kebutuhan untuk mengontrol segala sesuatu
- ketakutan ekstrem terhadap kesalahan
- sulit menerima ketidakpastian
Kadang pikiranku berkata:
“Kalau aku tidak memastikan semuanya aman, sesuatu buruk bisa terjadi. Dan itu salahku.”
Logika mungkin mengatakan itu tidak masuk akal.
Tapi rasa takut tidak selalu mengikuti logika.
Lingkungan juga bisa berperan. Stres berat, pengalaman traumatis, atau pola asuh yang sangat perfeksionis kadang memperkuat kecenderungan ini.
Jadi tidak ada satu penyebab tunggal.
Lebih tepatnya, OCD muncul dari kombinasi banyak faktor.
Hal yang jarang orang lihat
Banyak orang mengira OCD hanya tentang suka kebersihan atau kerapian.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Ada hari-hari ketika aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melawan pikiranku sendiri.
Kadang satu ritual saja bisa memakan waktu lama. Jika dihitung, mungkin satu sampai delapan jam dalam sehari.
Bayangkan betapa cepat waktu itu habis.
Akibatnya, banyak hal lain ikut terganggu.
Pekerjaan menjadi sulit fokus.
Belajar terasa lebih lambat.
Hubungan dengan orang lain kadang menjadi canggung.
Ada juga rasa lelah yang sulit dijelaskan. Bukan lelah fisik, tapi lelah karena pikiranku terus berputar.
Beberapa orang dengan OCD bahkan mengalami depresi karena tekanan mental yang terus-menerus.
Dan yang paling ironis?
Banyak dari kami menyembunyikan semuanya
Karena takut dianggap aneh.
Pertanyaan yang paling sering muncul: apakah ini bisa sembuh?
Aku pernah berharap suatu hari semua ini akan hilang begitu saja.
Tapi kenyataannya sedikit berbeda.
OCD jarang benar-benar menghilang sepenuhnya. Namun kabar baiknya: kondisi ini sangat bisa dikendalikan.
Salah satu metode yang paling efektif adalah terapi bernama Cognitive Behavioral Therapy.
Di dalamnya ada teknik khusus yang disebut Exposure and Response Prevention.
Prinsipnya terdengar sederhana, tapi sebenarnya sangat menantang.
Seseorang secara bertahap menghadapi hal yang memicu kecemasan, namun tidak melakukan ritual kompulsif.
Misalnya seseorang yang takut kuman menyentuh gagang pintu… lalu menahan diri untuk tidak langsung mencuci tangan.
Awalnya kecemasan naik sangat tinggi.
Tapi jika dibiarkan, otak perlahan belajar sesuatu yang baru:
bahwa kecemasan bisa turun tanpa ritual.
Selain terapi, beberapa orang juga menggunakan obat yang membantu menyeimbangkan sistem kimia otak, seperti Fluoxetine, Sertraline, atau Fluvoxamine.
Sering kali pendekatan terbaik adalah kombinasi terapi, obat, dan dukungan lingkungan.
Dengan bantuan yang tepat, banyak orang dengan OCD bisa kembali menjalani hidup secara normal.
Hal yang paling aneh dari semua ini
Ada satu hal yang selalu membuatku berpikir.
Aku sebenarnya tahu bahwa banyak ketakutanku tidak rasional.
Aku sadar pikiranku berlebihan.
Tapi kesadaran itu saja tidak cukup untuk menghentikannya.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling menarik tentang pikiran manusia.
Logika sadar kita tidak selalu menjadi pengendali utama.
Kadang sistem emosi di otak — sistem yang dirancang untuk melindungi kita dari bahaya — justru menjadi terlalu sensitif.
Seperti alarm yang berbunyi bahkan ketika tidak ada api.
Terapi bukan sekadar mengubah cara berpikir.
Terapi adalah melatih ulang sistem alarm itu agar belajar kapan harus diam.
Dan sampai hari itu benar-benar tiba, aku masih sering bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah pintu tadi sudah terkunci?”
Lalu aku berhenti sejenak.
Menarik napas.
Dan mencoba mempercayai satu hal yang dulu terasa mustahil:
Bahwa mungkin, untuk sekali ini saja…
aku tidak perlu mengeceknya lagi.


