Sekelompok orang sedang meeting. Di sisi yang lain tampak satu orang yang sepertinya dikucilkan dari meeting tersebut.

Mengenal Konformitas Sosial

Pernah nggak sih kamu berada di situasi di mana satu orang mulai menyalahkanmu… lalu tiba-tiba orang lain ikut menyalahkan juga?

Yang bikin aneh, kamu tahu sebagian dari mereka sebenarnya tidak benar-benar yakin kamu salah. Tapi mereka tetap ikut arus. Seolah-olah keputusan sudah dibuat: kamu adalah pihak yang harus disalahkan.

Kalau dilihat sekilas, ini seperti masalah pribadi. Seolah-olah orang-orang memang tidak suka padamu. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena seperti ini sebenarnya cukup umum.

Dan menariknya, sering kali penyebabnya bukan karena kebenaran, tapi karena dinamika kelompok.

Ketika Orang Ikut Menyalahkan Karena Tekanan Sosial

Dalam psikologi sosial ada konsep yang disebut konformitas sosial (conformity). Intinya sederhana: manusia punya kecenderungan untuk menyesuaikan sikap atau opini dengan kelompok.

Bukan selalu karena mereka setuju. Kadang hanya karena mereka tidak ingin terlihat berbeda.

Fenomena ini pernah diteliti dalam eksperimen terkenal oleh psikolog Solomon Asch. Dalam eksperimen itu, peserta diminta menjawab pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah. Tapi ketika mayoritas orang di ruangan memberikan jawaban yang jelas salah, banyak peserta akhirnya ikut menjawab salah juga.

Padahal mereka tahu jawabannya tidak benar.

Kenapa?

Karena tekanan sosial ternyata sangat kuat.

Ikut Mayoritas Bukan Karena Percaya

Ada jenis konformitas yang sangat relevan dengan situasi seperti ini. Namanya normative social influence.

Sederhananya begini:
orang mengikuti opini kelompok bukan karena mereka percaya, tapi karena mereka ingin tetap diterima oleh kelompok tersebut.

Di dalam pikiran mereka biasanya ada beberapa asumsi tersembunyi seperti ini:

  • “Kalau semua orang bilang dia salah, mungkin memang dia salah.”
  • “Lebih aman berada di sisi mayoritas.”
  • “Kalau aku membela dia, nanti aku juga bisa kena masalah.”

Jadi yang sedang mereka lakukan sebenarnya bukan mencari kebenaran. Mereka sedang mengelola risiko sosial.

Efek Ikut-Ikutan: Bandwagon Effect

Ada juga fenomena lain yang disebut bandwagon effect.

Ini terjadi ketika orang mulai percaya sesuatu hanya karena banyak orang lain mempercayainya.

Logikanya kira-kira seperti ini:

“Kalau banyak orang menyalahkan dia, pasti ada alasannya.”

Padahal belum tentu ada yang benar-benar memeriksa fakta.

Sering kali orang hanya melihat arah angin sosial… lalu memutuskan untuk ikut ke sana.

Mencari Kambing Hitam

Dalam beberapa situasi, kelompok bahkan tanpa sadar mencari satu pihak yang bisa dijadikan target kesalahan. Dalam psikologi fenomena ini dikenal sebagai scapegoating atau mekanisme kambing hitam.

Kenapa ini terjadi?

Karena konflik kelompok terasa lebih mudah diselesaikan jika ada satu pihak yang bisa dijadikan penyebab masalah. Begitu ada satu nama yang muncul, narasi mulai terbentuk.

Dan begitu narasi terbentuk, orang lain cenderung ikut memperkuatnya.

Ketika Semua Orang Sebenarnya Ragu

Ada fenomena psikologi lain yang lebih menarik lagi: pluralistic ignorance.

Situasinya kira-kira seperti ini:

  • Banyak orang sebenarnya ragu apakah kamu benar-benar salah.
  • Tapi setiap orang mengira orang lain yakin kamu salah.
  • Akhirnya semua orang ikut menyalahkan.

Ironisnya, semua orang mungkin sedang berpikir hal yang sama:
“Sepertinya yang lain yakin dia salah… jadi aku ikut saja.”

Padahal kalau mereka berbicara jujur, mungkin setengah dari mereka sebenarnya tidak yakin sama sekali.

Kenapa Orang Bisa Bersikap Seperti Itu?

Ada beberapa alasan psikologis kenapa manusia sering jatuh ke pola seperti ini.

Pertama, manusia pada dasarnya makhluk sosial. Secara evolusi, dikucilkan dari kelompok bisa berarti ancaman serius terhadap kelangsungan hidup. Jadi otak kita punya kecenderungan alami untuk menghindari konflik dengan kelompok.

Kedua, tidak semua orang punya keberanian sosial yang tinggi. Banyak orang lebih memilih posisi aman: tidak menentang, tidak membela, cukup ikut arus saja.

Ketiga, ada rasa takut terhadap hukuman sosial. Orang khawatir jika mereka membela orang yang sedang disalahkan, mereka bisa ikut diserang atau dicurigai.

Akhirnya pilihan yang terlihat paling aman adalah sederhana: ikut mayoritas.

Keempat, ada yang disebut herd mentality, atau mentalitas kawanan. Ketika situasi tidak jelas, manusia sering menggunakan shortcut mental: ikuti saja apa yang dilakukan kebanyakan orang.

Ini memang menghemat energi berpikir. Tapi konsekuensinya, keputusan yang dihasilkan sering kali tidak adil.

Hal Menarik Tentang Tekanan Kelompok

Ada satu hal menarik dari penelitian tentang konformitas.

Ketika semua orang di dalam kelompok setuju pada satu hal, tekanan sosial menjadi sangat kuat. Orang cenderung mengikuti arus meskipun sebenarnya mereka tidak setuju.

Tapi ada perubahan besar ketika hanya satu orang saja berani berbeda pendapat.

Dalam eksperimen konformitas, kehadiran satu orang yang tidak setuju dengan mayoritas bisa menurunkan tingkat konformitas secara drastis. Tiba-tiba orang lain merasa mereka tidak sendirian.

Dan mereka mulai berani berpikir sendiri.

Pada akhirnya, fenomena menyalahkan seseorang secara kolektif sering kali bukan soal siapa yang benar atau salah.

Sering kali itu hanya soal dinamika kelompok:
siapa yang pertama bicara, siapa yang ikut arus, dan siapa yang berani berdiri sendiri.

Dan dalam banyak situasi sosial, berdiri sendiri memang tidak selalu mudah.