Gambar tersebut menampilkan siluet gelap seseorang yang berdiri dengan latar belakang abu-abu gelap. Di bagian tengah gambar, terdapat teks putih yang bertuliskan "NPD vs Covert Narcissism". Siluet orang tersebut terlihat condong ke belakang dengan satu tangan terangkat, seolah-olah sedang berbicara atau beraksi.

NPD vs Covert Narcissism

Pernahkah kau bertanya: sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam diri manusia ketika ia begitu terobsesi pada dirinya sendiri? Apakah itu sekadar kesombongan biasa, atau ada sesuatu yang lebih rumit di baliknya?

Aku pernah membaca tentang sebuah istilah dalam psikologi: Narcissistic Personality Disorder. Gangguan kepribadian yang katanya membuat seseorang merasa dirinya sangat penting, sangat istimewa, seolah dunia memang seharusnya berputar mengelilinginya.

Sekilas terdengar sederhana. Orang seperti itu tampaknya mudah dikenali. Mereka biasanya tampil percaya diri, bicara lantang tentang kehebatan mereka, dan tampak selalu ingin menjadi pusat perhatian.

Tapi semakin kupikirkan, semakin terasa aneh.
Apakah benar narsisme selalu terlihat seperti itu?

Bayangkan seseorang yang selalu memamerkan dirinya. Ia ingin dipuji, ingin diakui, ingin dianggap luar biasa. Ia tampak begitu yakin pada dirinya sendiri. Namun jika sedikit saja dikritik, ia bisa marah besar, atau tiba-tiba merendahkan orang lain.

Di luar, ia terlihat kuat.
Tapi reaksi terhadap kritik itu terasa… terlalu rapuh.

Mungkin di situlah paradoksnya.
Mungkin rasa hebat yang ia tampilkan bukan benar-benar keyakinan, tetapi semacam perisai.

Perisai terhadap kemungkinan bahwa ia sebenarnya tidak merasa cukup berharga.

Namun kemudian aku menemukan sisi lain yang lebih membingungkan. Ternyata tidak semua narsisme tampil mencolok. Ada bentuk yang jauh lebih halus—lebih sulit dikenali.

Beberapa psikolog menyebutnya covert narcissism.

Dan ini membuatku berpikir ulang tentang banyak orang yang pernah kutemui.

Karena tipe ini tidak terlihat seperti orang yang haus perhatian. Justru sering sebaliknya. Mereka bisa terlihat pendiam, sensitif, bahkan tampak seperti orang yang sering disalahpahami.

Kalau narsisme yang pertama mungkin suka berkata, “Lihat aku, aku luar biasa.”
Sedangkan bentuk yang kedua mungkin akan sering berkata:

“Tidak ada yang benar-benar mengerti aku.”

Di luar mereka mungkin terlihat rendah hati, tetapi di dalamnya ada keyakinan samar bahwa mereka sebenarnya berbeda dari orang lain—lebih dalam, lebih kompleks, atau mungkin lebih istimewa, hanya saja dunia belum menyadarinya.

Aku mulai menyadari sesuatu yang menarik.

Dua tipe itu terlihat berbeda, tetapi mungkin berasal dari akar yang sama.

Satu orang menutupi keraguan dirinya dengan menunjukkan kehebatan secara terbuka.
Yang lain menutupi keraguan yang sama dengan menarik diri, sambil diam-diam merasa dunia gagal menghargainya.

Dua strategi yang berbeda.
Tapi mungkin luka yang sama.

Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang terlalu memuji tanpa batas, ia bisa belajar bahwa dirinya selalu istimewa. Tetapi jika seseorang tumbuh dengan kritik yang terus-menerus, atau dengan perhatian yang tidak konsisten, ia mungkin mengembangkan cara lain untuk melindungi harga dirinya.

Aku membayangkan seorang anak yang merasa tidak pernah cukup baik.
Pada suatu titik, pikirannya mungkin membuat kompromi yang aneh:

“Kalau dunia tidak melihat nilai diriku, mungkin dunia yang salah.”

Dari situ, dua kemungkinan muncul.

Sebagian orang akan berusaha membuktikan kehebatan mereka kepada semua orang.
Sebagian lainnya akan menyimpan keyakinan itu diam-diam, sambil merasa tidak ada yang benar-benar memahami mereka.

Dan semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa narsisme bukan sekadar tentang ego besar.

Kadang justru tentang sesuatu yang jauh lebih rapuh.

Tentang seseorang yang sangat membutuhkan pengakuan, tetapi tidak tahu cara mendapatkannya tanpa melindungi dirinya terlebih dahulu.

Ironisnya, perlindungan itu sering membuat hubungan mereka dengan orang lain menjadi sulit. Orang di sekitar mereka mungkin merasa dimanfaatkan, diabaikan, atau terus-menerus harus memberi validasi.

Dan di situ siklusnya mulai terbentuk.

Semakin mereka tidak merasa dihargai, semakin mereka mempertahankan perisai itu.
Semakin kuat perisai itu, semakin sulit orang lain benar-benar mendekati mereka.

Coba kau pikirkan lebih dalam lagi!

Apakah orang dengan narsisme terlalu mencintai dirinya sendiri?

Atau justru sebaliknya—mereka terlalu takut menghadapi kemungkinan bahwa mereka mungkin tidak cukup berharga, sehingga mereka membangun versi diri yang jauh lebih besar untuk melindungi diri mereka sendiri.

Mungkin jawaban sebenarnya tidak sesederhana yang terlihat dari luar.

gimana menurutmu? Coba cerita di kolom komentar!